KELEBIHAN DAN KELEMAHAN GREENHOUSE



Dunia pertanian kita masih demikian tergantungnya pada keadaan cuaca, bila terjadi perubahan musim, apalagi bila tidak terprediksi akan menyebabkan sulitnya menentukan jenis tanaman yang akan diproduksi. Jika musim hujan terlalu panjang akan menyebabkan banyaknya penyakit termasuk pembusukan akar. Jika musim terlalu kering akan menyebabkan tanaman kekurangan air, hama juga akan menyerang yang dapat menimbulkan kerugian.  Demikian pula pada saat tertentu suatu komoditas sulit ditemui mengakibatkan harganya demikian tinggi, sementara pada waktu lain kebanjiran produk menyebabkan harga anjlok, sehingga kerugian segera tiba.

Untuk itu perlu sekali mengurangi ketergantungan pada lingkungan luar menggantikan dengan mikroklimat yang diatur. Dengan demikian dapat dijadwalkan produksi secara mandiri dan berkesinambungan. Sehingga konsumen tidak perlu kehilangan komoditas yang dibutuhkan, juga kita tidak perlu membanjiri pasar dengan jenis komoditas yang sama yang menyebabkan harga anjlok.


  1. Meningkatkan hasil produksi


Pada luasan areal yang sama tingkat produksi budidaya di dalam green house lebih tinggi dibandingkan di luar green house. Karena budidaya di dalam green house kondisi lingkungan dan pemberian hara dikendalikan sesuai kebutuhan tanaman. Gejala hilangnya hara yang biasa terjadi pada areal terbuka seperti pencucian dan fiksasi, di dalam green house diminimalisir. Budidaya tanaman seperti ini dikenal sebagai hidroponik.

Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan pengawasan dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap tanaman baik karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat dengan segera diketahui untuk diatasi

2.Meningkatkan kualitas produksi

Ekses radiasi matahari seperti sinar UV, kelebihan temperatur, air hujan, debu, polutan dan residu pestisida akan mempengaruhi penampilan visual, ukuran dan kebersihan hasil produksi.

Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dan pemberian nutrisi akurat dan tepat waktu, maka hasil produksi tanaman akan berkwalitas. Pemasakan berlangsung lebih serentak, sehingga pada saat panen diperoleh hasil yang lebih seragam, baik ukuran maupun bentuk visual produk.

3.Meminimalisasi pestisida

Green house yang baik selain dirancang untuk memberikan kondisi mikroklimat ideal bagi tanaman, juga memberikan perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit. Perlindungan yang umum dilakukan adalah dengan memasang insect screen pada dinding dan bukaan ventilasi di bagian atap. Insect screen yang baik tidak dapat dilewati oleh hama seperti kutu daun.

Pada beberapa green house bagian pintu masuknya tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Ada ruang kecil, semacam teras transisi yang dibuat untuk menahan hama atau patogen yang terbawa oleh manusia. Pada lantai ruang ini juga terdapat bak berisi cairan pencuci hama dan patogen. Untuk pintu dapat ditambahkan lembaran PVC sheet.

4.Aset dan performance

Saat ini sangat biasa orang membangun green house dengan sistem knock down. Dengan cara ini gren house bukanlah aset mati, manakala karena suatu hal ada perubahan kebijakan, maka struktur green house tersebut dapat dipindahkan atau mungkin dijual ke pihak lain yang memerlukan dengan harga yang proporsional.

Dengan adanya green house maka kesan usaha akan terlihat lebih modern dan padat teknologi. Hal ini tentunya akan meningkatkan performance petani atau perusahaan yang menggunakannya.

5.Sarana agrowisata dan media pembelajaran

Green house banyak juga digunakan sebagai ruang koleksi berbagai jenis tanaman bernilai tinggi. Di dalam green house pengunjung dapat melihat berbagai jenis tanaman yang menarik, bahkan langka, sehingga dapat menjadi daya tarik. Ada yang khusus mengkoleksi kaktus, anggrek atau berbagai jenis tanaman dengan suasana dibuat seperti di alam bebas. Di Indonesia green house seperti ini banyak ditemukan di berbagai kebun raya dan tempat agrowisata.Disamping itu juga,green house seringkali djadikan sebagai media penelitian atau wahana belajar lapangan dalam menunjang referensi-referensi pelajaran bagi para mahasiswa khususnya para mahasiswa yang terkait dengan dunia pertanian

Kelemahan Green House

Sebaiknya perlu diantisipasi beberapa kelemahan jika akan mendirikan bangunan ini utamanya dibutuhkan biaya investasi tinggi (overhead cost), menuntut ekstra perhatian dan perawatan sehingga sumberdaya manusia yang trampil dan berdedikasi menjadi kunci keberhasilan dalam optimalisasi pemanfaatan teknologi ini. Ukuran dan bahan materi, bentuk serta struktur green house sangatlah bervariasi sesuai dengan tujuan / kepentingan yang ingin diperoleh. Ukuran green house mulai 100 m2 hingga 10.000 m2 bahkan lebih.

Sedangkan bahan yang digunakan mulai yang sederhana terbuat dari lembar polythein, dilengkapi dengan atap dari lembar polycarbonate, gabungan
polythein dan shading net, otomatik dan semi otomatik hingga seluruhnya dikendalikan dengan sistem komputerisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Description: KELEBIHAN DAN KELEMAHAN GREENHOUSE Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: KELEBIHAN DAN KELEMAHAN GREENHOUSE


Shares News - 01.54
Read More Add your Comment 27 komentar


Keunggulan Pupuk Organik



A.Menyehatkan Lingkungan

Sebagai materi akhir atau sisa dari suatu proses pemakaian,sampah cenderung diatasi hanaya sebatas mengangkutnya dari tempat samapah di permukaan ke tempat pembuangan sampah akhir atau membakarnya.Padahal,jika dilihat dari jumlah penduduk yang terus meningkat,perubahan tingkat pola konsumsi,iklim dan musim,serta penyediaan kebutuhan hidup,cara seperti itu kurang mampu mengatasi masalah sampah.Sebab,sampah yang dihasilkan setiap hari terus meningkat dan dapat menimbulkan banyak masalah

Satu-satunya cara yagn efektif dan efisien adalah dengan mendaur ulang.Sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi biji palstik,sedangkan sampah organik bisa diolah lagi menjadi kompos atau pupuk organik.Daur ulang sampah organik menjadi pupuk tidak hanya bisa menyuburkan tanaman,tetapi juga turut menyehatkan lingkungan.Selain itu,penggunaan pupuk organik juga tidak meninggalkan residu pada tanaman sehingga ama dikonsumsi.

B.Revatilisasi Produktivitas Tanah

Pada dasarnya,pemakaian pupuk anorganik terus menerus sampai pada tahap tertentu ternyata dapat berakibat buruk bagi kondisi hara tanah.Pupuk anorganik akan terakumulasi dalam tanah an meyebabkan kekurangan hara.Tanah yang sering diberi pupuk anorgaik lam kelamaan akan menjadi keras,sehingga sulit diolah dan mengganggu pertumbuhan tanaman.Karena itu,pemanfaatan pupuk organik untuk tanah pertanian sangat membantu memperbaiki struktur tanah,meningkatkan permeabilitas taah,dan mengurangi ketergantungan lahan pada pupuk anorganik.

Selain itu,pupuk organik juga berperan sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme tanah.Dengan demikian,adanya pupuk organik akan meningkatkan jumlah dua aktivitas mikroorganisme tanah,sehingga tanah menjadi gembur

C.Menekan Biaya Usaha Tani

Para petani umumnya lebih banyak menggunakan pupuk anorganik daripada pupuk organik.Menurut mereka,penggunaan pupuk anorganik lebih praktis daripada pupuk organik.Selain itu,hasilnya juga lebih cepat terlihat.Pada akhirnya petani menjadi tergantung dengan pupuk anorganik.Padahal harga dan ketersediaannya di pasaran cenderung fluktuatif.Pada saat pupuk anorganik sulit ditemukan di pasar,harganya pun menjadi mahal.Namun,para petani terpaksa membelinya karena sudah terbiasa dengan pupuk tersebut.Kondisi seperti ini akan sangat memberatkan beban petani.Karena itu,diperlukan sosialisasi yang berkesinambungan untuk memperkenalkan petani tentang keunggulan dan keuntungan pupuk organik dibandingkan dengan pupuk organik di pasaran biasanya lebih murah dibandingkan dengan harga pupuk anorganik.Karena itu,penggunaan pupuk organik bisa menekan biaya usaha tani dan juga meningkatkan hasil panennya.

D.Meningkatkan Kualitas Produk

Pada darsarnya,tanaman yang diberikan pupuk organik bisa lebih berkualitas.Tanaman sayuran yang diberi pupuk dengan pupuk organik akan lebih segar dan rasanya enak,serta daya simpannya lebih lama.Tanaman buah pun kualitasnya menjadi lebih baik dengan pupuk organik.Tanaman salak yang dipupuk menggunakan pupuk organik dapat menghasilkan buah yang rasanya lebih manis.Selain itu,daya fruitset atau persentase bunga yang menjadi buah jauh lebih banyak.Begiru pula makanan yang diolah dari bahan organik pun daya simpannya lebih lama.Nasi yang diolah dari beras organik bisa tahan selama 24 jam tanpa dimasukkan ke dalam alat pemanas elektrik(rice cooker),sedangkan nasi dari beras anorganik hanya tahan disimpan selama 12 jam.Description: Keunggulan Pupuk Organik Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Keunggulan Pupuk Organik


Shares News - 05.55
Read More Add your Comment 10 komentar


STEK DAUN NANAS



Bibit nanas sring mati.Itulah keluhan pekebun nanas yang menanam bibit asal kultur jaringan.Musababnya,bibit asal kultur jaringan kerap merana saat beradaptasi dari laboratorium ke lapangan.Bibit dari mahkota dan anakan pun tak bisa diandalkan karena jumlah terbatas.Satu tanaman hanya menghasilkan 1 mahkota dan 2 anakan.



Naekman Naibaho SP,peneliti dari Pusat Kajian Buah-Buahan Tropika (PKBT) IPB Bogor,menawarkan cara baru:stek daun.Bibit asal stek daun itu gampang beradaptasi.Dari selembar daun bisa diperoleh 5-6 anakan.Ia siap di pindah ke lapangan setelah ditanam di polibag selama 6 bulan-setara 25 cm.Nanas asal stek daun itu berbuah pada umur 18 bulan,setara dengan bibit asal mahkota dan anakanDescription: STEK DAUN NANAS Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: STEK DAUN NANAS


Shares News - 19.20
Read More Add your Comment 3 komentar


MENANGKAL GELOMBANG TSUNAMI DENGAN MANGROVE



Masih ingatkah dalam benak kita bencana gempa dan gelombang yang menggulung sebagian besar wilayah provinsi Aceh?Begitu tragis dan membuat kita begitu empati terhadap peristiwa tersebut yang merenggut nyawa masyarakat Aceh tak kurang dari 150 ribu manusia dari segala golongan masyarakat.Description: MENANGKAL GELOMBANG TSUNAMI DENGAN MANGROVE Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: MENANGKAL GELOMBANG TSUNAMI DENGAN MANGROVE


Shares News - 02.35
Read More Add your Comment 8 komentar


DAMPAK PENGALIHAN FUNGSI HUTAN PRIMER MENJADI AREAL PERKEBUNAN SAWIT



1.Definisi Hutan Primer

Hutan primer (primary forest) adalah hutan yang telah mencapai umur lanjut dan ciri struktural tertentu yang sesuai dengan kematangannya; serta dengan demikian memiliki sifat-sifat ekologis yang unik. Pada umumnya hutan primer berisi pohon-pohon besar berumur panjang, berseling dengan batang-batang pohon mati yang masih tegak, tunggul, serta kayu-kayu rebah. Robohnya kayu-kayu tersebut biasa membentuk celah atau rumpang tegakan, yang memungkinkan masuknya cahaya matahari ke lantai hutan, dan merangsang pertumbuhan vegetasi lapisan bawah. Hutan primer yang minim gangguan manusia biasa disebut hutan perawan.
Hutan serupa ini juga dikenal dengan nama-nama lain dalam bahasa Inggris seperti old-growth forest, ancient forest, virgin forest, primeval forest, frontier forest, atau di Britania Raya, ancient woodland.
Lawan katanya adalah hutan sekunder, yakni hutan-hutan yang merupakan hasil regenerasi (pemulihan) setelah sebelumnya mengalami kerusakan ekologis yang cukup berat; misalnya akibat pembalakan, kebakaran hutan, atau pun bencana alam. Hutan sekunder umumnya secara perlahan-lahan dapat pulih kembali menjadi hutan primer, yang tergantung pada kondisi lingkungannya, akan memakan waktu beberapa ratus hingga beberapa ribu tahun lamanya. Hutan kayu daun-lebar di Amerika Serikat bagian timur dapat pulih kembali menjadi hutan primer dalam satu atau dua generasi tumbuhan, atau antara 150-500 tahun.
Banyak tegakan hutan primer yang terancam kelestariannya oleh sebab kerusakan habitat yang diakibatkan oleh pembalakan atau pembukaan hutan. Kehancuran habitat ini pada gilirannya menurunkan tingkat keanekaragaman hayati, yang memengaruhi bukan saja kelestarian hutan primer itu sendiri, namun juga keberadaan spesies-spesies asli yang kehidupannya bergantung pada lingkungan yang disediakan hutan primer.[2][3]
Hutan primer seringkali merupakan rumah bagi spesies-spesies tumbuhan dan hewan yang langka, rentan atau terancam kepunahan, yang menjadikan hutan ini penting secara ekologi. Meski demikian, keanekaragaman hayati di hutan primer bisa lebih tinggi atau lebih rendah jika dibandingkan dengan hutan sekunder, bergantung pada berbagai kondisi lokal, variabel lingkungan setempat, atau pun letak geografisnya. Penebangan hutan primer adalah isu yang penting di banyak bagian dari dunia.
1.1.Menurut Dinamika Tegakan
Dari perspektif dinamika tegakan, hutan primer didefinisikan sebagai tahapan akhir yang mengikuti tahap Pertumbuhan-kembali-lapis-bawah.[7] Ringkasan tahap-tahap dinamika tegakan yang dimaksud adalah sbb.:
1. Tahap Musnahnya tegakan, yakni adanya kejadian gangguan yang merusak dan memusnahkan hampir semua pohon dalam tegakan hutan.
2. Tahap Tegakan tumbuh kembali, ialah saat dan proses tumbuhnya pohon-pohon baru untuk membentuk tegakan hutan yang baru.
3. Tahap Seleksi batang, adalah masa-masa di mana pertumbuhan pohon-pohon yang semakin besar dan rapat mengakibatkan kompetisi yang ketat dalam memperebutkan cahaya. Pohon-pohon yang lambat tumbuh akan mati dan menyediakan ruang bagi yang mampu bertahan. Pohon-pohon yang bertahan akan tumbuh semakin besar, dengan atap tajuk yang semakin rapat dan padat, dan secara drastis menyusutkan jumlah cahaya matahari yang mencapai dasar hutan. Pohon-pohon lapis-bawah kebanyakan akan mati, dan menyisakan hanya jenis-jenis yang sanggup hidup di bawah naungan yang berat (spesies toleran).
4. Tahap Pertumbuhan kembali lapis-bawah. Sebagian pohon-pohon kemudian akan mati, baik karena penyakit, dirusak angin, atau karena sebab-sebab lain. Tumbangnya pohon-pohon itu akan membentuk celah hutan, yang memungkinkan cahaya –betapapun sedikitnya– dapat mencapai lantai hutan. Maka pohon-pohon di lapis-bawah tajuk hutan, terutama jenis-jenis yang toleran terhadap naungan, akan dapat tumbuh kembali khususnya di sekitar tempat-tempat kena cahaya itu.
5. Tahap Hutan primer. Pohon-pohon penyusun tajuk utama hutan mulai tua dan semakin banyak yang mati; dengan sendirinya celah hutan yang terbentuk semakin banyak, pada lokasi dan waktu yang berbeda. Pohon-pohon lapis-bawah tumbuh dengan laju yang berbeda, bergantung pada ketersediaan cahaya di lingkungannya; dan yang berada di sekitar celah dapat tumbuh lebih cepat, untuk kemudian menutup celah dengan tajuknya yang meninggi.
Demikianlah, pada hutan primer akan terbentuk semacam kesetimbangan yang dinamis, di mana celah akan selalu terbentuk dan terpulihkan kembali; secara keseluruhan membentuk mosaik pepohonan dari pelbagai umur dan jenis. Walau begitu hutan primer belum tentu selamanya demikian, dan ada tiga kemungkinan lain yang bisa terjadi ke depan: (a) Hutan mengalami bencana yang memusnahkan banyak pohon, sehingga prosesnya kembali ke tahap awal tegakan. (b) Hutan memengaruhi dan membentuk lingkungan baru, yang tak sesuai lagi bagi pertumbuhan anakan pohon yang saat ini ada. Pohon-pohon tua akan punah dan pohon-pohon lebih kecil akan membentuk hutan tiang. (c) Pohon-pohon lapis-bawah yang menggantikan, berasal dari jenis yang berbeda dengan jenis pembentuk kanopi semula. Dalam kondisi ini akan terjadi kembali tahap Seleksi batang, namun melibatkan spesies-spesies yang berbeda dengan sebelumnya.
Tahap hutan primer ini dapat bertahan selama ratusan bahkan ribuan tahun; akan tetapi ini bergantung pada komposisi jenis pohon dan iklim wilayah setempat. Kebakaran hutan alami yang kerap terjadi, umpamanya, tidak memungkinkan hutan boreal (hutan kutub) dapat tumbuh setua hutan-hutan di jajaran pantai Pasifik di Amerika utara.
Perlu diperhatikan bahwa meski terjadi pergeseran komunitas pepohonan dalam tegakan, hutan itu tidak selalu dapat mencapai tahapan hutan primer. Beberapa spesies pohon memiliki tajuk yang relatif terbuka, yang memungkinkan pohon-pohon toleran tumbuh sempurna di bawah kanopi sebelum tercapainya tahap Pertumbuhan kembali lapis-bawah. Pohon-pohon yang biasanya di lapis bawah itu pun bisa jadi mendesak dan menyingkirkan pohon kanopi atas pada tahapan Seleksi batang; maka spesies pohon yang dominan akan berubah, namun tegakan itu akan tetap berada pada tahap Seleksi batang

1.2.Menurut Umur Tegakan
Umur tegakan hutan juga dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menggolongkan ke dalam hutan primer[8]. Untuk masing-masing wilayah geografis, ada semacam perkiraan waktu rata-rata yang diperlukan oleh hutan yang rusak untuk pulih kembali mencapai tahap hutan primer. Metoda ini praktis dan berguna, karena dapat secara cepat dan obyektif menetapkan tahapan suatu tegakan hutan.
Namun demikian metoda ini mengabaikan bagaimana hutan itu berproses. Maka bisa jadi suatu tegakan hutan dianggap bukan hutan primer, meski telah memiliki ciri-cirinya, hanya karena umurnya lebih muda dari waktu standar tersebut. Dan sebaliknya, suatu hutan dapat dianggap sebagai hutan primer karena telah masuk umur, walau bila menilik tanda-tandanya pada kenyataannya belum mencapai tahap itu. Penggunaan ukuran waktu ini bisa menimbulkan masalah apabila tidak hati-hati diterapkan; karena hutan yang dibalak hingga sejumlah 30% dari pohonnya cenderung lebih cepat pulih daripada hutan yang dibalak hingga 80% pohonnya

2.Fungsi Hutan Primer

Ekologi
Manfaat langsung
Industri
Lain-lain
1. Penyangga
keseimbangan ekosistem
2. perlindungan
kehidupan
alam
3.Prokteksi daerah
aliran air
4.Pengendalian erosi
5.Penyimpanan
cadangan air
6.Penyerapan CO2 &
dll
7.Penghasil O2 &Kesegaran umumnya
8.Kesuburan tanah 1.Makanan langsung
(buah,buruan,sagu)
2. Bahan obat &
penyegar
3. Kayu bakar
4. Bahan arang
5. Kayu bangunan
6. Bahan tenunan
(serat,ulat sutera)
7.Pemeliharaan lebah
(madu) 1. Industri kayu
2.Industri farmasi(obat
penyegar,kosmetik,dsb
3. Industri kertas
4. Getah (karet)
5. Residu(mentol,
terpentin)
6.Minyak(cengkeh,kayu
putih dst.) 1. Estetik
2. Rekreasi
3. Spiritual
4. Olah raga
5. Cinta alam
6. Sejarah
7. Sosbud
8.Ketahanan
nasional
3.Luas Hutan Primer Indonesia
Greenomics Indonesia meragukan luas hutan primer di Indonesia yang diklaim Satuan Tugas (Satgas) Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD+). Sebelumnya, staf khusus presiden bidang perubahan iklim Agus Purnomo menyatakan, luas hutan primer di Indonesia mencapai 64 juta hektar (ha), sedangkan luas hutan sekunder, 20-30 juta ha.
Greenomics mengatakan keraguan pihaknya atas data hutan primer muncul karena data itu berbeda dengan versi Kementerian Kehutanan (Kemhut). Data Kemhut 2008 menyebutkan luas hutan primer 45 juta ha, termasuk 1 juta ha hutan primer yang berada di luar kawasan hutan. Data itu adalah kondisi tutupan hutan primer tahun 2005 dan 2006.

Pihaknya juga meragukan luas hutan sekunder yang diklaim tinggal 20-30 juta ha. Menurut data Kemenhut, luas tutupan hutan sekunder pada 2005 dan 2006 mencapai 48,7 juta hektar, termasuk 6 juta ha yang berada di luar kawasan hutan.

Keterbukaan mengenai luas hutan sangat penting, mengingat penambahan hutan primer 19 juta ha dan penurunan luas hutan sekunder hingga mencapai 18,7 juta-28,7 juta ha dalam kurun waktu lima tahun terakhir patut diragukan.
4.Konversi Hutan dan Perluasan Perkebunan Besar Kelapa Sawit
4.1.Laju Konversi Hutan
Investasi di sektor perkebunan besar kelapa sawit yang meningkat pesat pada tahun 1980-an dan 1990-an membutuhkan penyediaan lahan yang meningkat pula. Penyediaan lahan untuk perkebunan besar tersebut, dilakukan dengan melakukan konversi hutan primer. Realisasi penyediaan lahan untuk perkebunan besar pada tahap persetujuan prinsip pelepasan sampai dengan tahun 1998/1989 atau Pelita IV luasnya mencapai 1.652.301,20 ha, sedangkan sampai dengan 1993/1994 atau Pelita V mencapai 3.805.113,20 ha. Jumlah realisasi pelepasan kawasan hutan ini terus mengalami peningkatan yang sangat cepat pada Pelita VI, yang sampai dengan 31 Maret 1998 telah mencapai 8.204.524,94 ha.

5.Dampak Pengalihan Hutan Primer Menjadi Perkebunan Sawit
Proses alih fungsi hutan primer menjadi perkebunan kelapa sawit yangat diminati oleh pengusaha, karena sebelum pengusaha melakukan investasi perkebunan kelapa sawit mereka telah mendapatkan keuantungan yang sangat besar. Bahkan banyak kasus yang terjadi dimana perusahaan-perusahaan hanya menggunakan perkebunan kelapa sawit sebagai tameng untuk mengambil kayu hutan. Setelah kayu hutan diambil, lahan ditelantarkan dan tidak dijadikan perkebunan kelapa sawit. Penebangan hutan merupakan sumber terbesar kedua dalam meningkatkan level CO2 (karbon diokasida) di atmoster (Soerjani, 2007). Padahal menurut Protokol Kyoto, hutan dapat dijual karena 1 hektar hutan dapat menyerap 250 – 300 ton CO2, jadi jika dijual 1 ton CO2 bernilai US $ 5 (Soerjadi dkk, 2007).
Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang merambah hutan bahkan telah memasuki lahan-lahan basah, seperti gambut membuat emisi CO2semakin meningkat. Secara ekologis sistem monokultur pada perkebunan kelapa sawit telah merubah ekosistem hutan, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plasma nutfah. Selain itu juga mengakibatkan hilangnya sejumlah sumber air, sehingga memicu kekeringan, peningkatan suhu, dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam. Perkebunan kelapa sawit mengakibatkan berkurangnya kawasan resapan air, sehingga pada musim hujan akan mengakibatkan banjir karena lahan tidak mempunyai kemampuan menyerap dan menahan air.
Perubahan ekosistem hutan juga berdampak pada kehancuran habitat flora dan fauna. Perubahan ini mengakibatkan konflik antar satwa, maupun konflik satwa dengan manusia. Akibat habitat yang telah rusak, hewan tidak lagi memiliki tempat yang cukup untuk hidup dan berkembang biak. Sering terjadi hewan (gajah, harimau, dll) merusak lahan pertanian dan perumahan penduduk, bahkan mengakibatkan korban jiwa bagi masyarakat sekitar, seperti yang terjadi di Propinsi Jambi dan Bengkulu..
Pembukaan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar menggunakan peralatan berat akan menyebabkan pemadatan tanah. Dengan sistem monokultur juga mengakibatkan tanah lapisan atas (top soil) yang subur akanhilang akibat terjadinya erosi. Dalam kultur budidaya, kelapa sawit merupakan tanaman yang rakus air dan unsur hara. Kelapa sawit setiap harinya membutuhkan air sebanyak 20 – 30 liter / pohon. Dengan demikian secara perlahan perkebunan kelapa sawit dapat menurunkan permukaan air tanah. Selain itu kelapa sawit juga merupakan tanaman yang rakus akan unsur hara, sehingga diperlukan pemupukan yang memadai. Penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan akan menyebabkan residu dan mematikan organisme tanah. Selain itu dalam pemeliharaan kelapa sawit yang dilakukan secara intensif menggunakan banyak pestisida untuk penanggulangan hama dan penyakit. Hal ini mengakibatkan adanya residu pestisida dan membunuh spesies lainnya yang akan mengganggu keseimbangan rantai mahluk hidup.
6.Langkah Preventif Dalam Upaya Mengendalikan Dampak Perkebunan Sawit Terhadap Lingkungan
1. Pengembangan perkebunan kelapa sawit memberikan dampak positfi dan negatif. Oleh karena dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) harus memperhatikan dan menyerasikan funsgi-fungsi lingkungan.
2. Perencanaan penataan ruang yang berorientasi lingkungan dan dengan memperhatikan aspek berkelanjutan, serta tidak mempertimbangkan aspek ekonomi semata.
3. Diperlukan penegakan aturan (law inforcement) dan pemberian sanksi yang jelas dan tegas terhadap individu / perusahaan / lembaga yang melanggar.
4. Menetapkan standar pengelolaan perkebunan sawit sesuai kaidah kelestarian lingkungan, lalu mengeluarkan sertifikasi standar yang memastikan CPO dihasilkan benar-benar memenuhi prinsip sesuai kreteria yang disyaratkan itu.Description: DAMPAK PENGALIHAN FUNGSI HUTAN PRIMER MENJADI AREAL PERKEBUNAN SAWIT Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: DAMPAK PENGALIHAN FUNGSI HUTAN PRIMER MENJADI AREAL PERKEBUNAN SAWIT


Shares News - 17.19
Read More Add your Comment 9 komentar


MENCIPTAKAN PERTANIAN YANG MODERNISASI DAN REVOLUSIONER MELALUI PERAN PEMUDA YANG INOVATIF DAN KREATIF DALAM WADAH GLOBALISASI




 

Pembangunan ketahanan pangan merupakan salah satu faktor kunci dalam pembangunan suatu bangsa. Ketahanan pangan merupakan subsistem dengan subsistem utama ketersediaan pangan, distribusi, dan konsumsi. Komitmen pemerintah sangat besar terhadap aspek ketahanan pangan bagi pembangunan bangsa dan ketahanan nasional.ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang sangat kompleks mencakup fungsi penyediaan, distribusi dan konsumsi, maka satu hal ini berarti bahwa ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang dibangun secara lintas sektoral, lintas pelaku, dan lintas daerah.

Pertanian sebagai penjaga nyawa ketahanan pangan mempunyai kontribusi penting terhadap perekonomian yaitu kontribusi produk dalam sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan juga kontribusi pasar. Di Indonesia sebagai Negara agraris, ada peran tambahan dari sektor pertanian yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar sekarang berada di bawah garis kemiskinanDescription: MENCIPTAKAN PERTANIAN YANG MODERNISASI DAN REVOLUSIONER MELALUI PERAN PEMUDA YANG INOVATIF DAN KREATIF DALAM WADAH GLOBALISASI Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: MENCIPTAKAN PERTANIAN YANG MODERNISASI DAN REVOLUSIONER MELALUI PERAN PEMUDA YANG INOVATIF DAN KREATIF DALAM WADAH GLOBALISASI


Shares News - 01.33
Read More Add your Comment 10 komentar